Tradisi Bebubus Bertahan di Tengah Modernisasi, Yahantara Dorong Generasi Muda Lestarikan Warisan Lokal
YAHANTARA.COM - Tradisi pengobatan tradisional bebubus masih terus dijalankan oleh masyarakat sebagai bagian dari kearifan lokal yang diwariskan secara turun-temurun. Praktik ini dilakukan oleh seorang belian (tabib tradisional) yang dikenal dengan nama Saik Dijah, yang hingga kini tetap melayani warga yang datang untuk berobat.
Saat ditemui dalam kegiatan wawancara di kediamannya di Desa Surabaya pada 27 Maret 2026, Saik Dijah menjelaskan bahwa praktik bebubus masih diminati oleh masyarakat. Ia menyebutkan bahwa kegiatan ini berlangsung hampir setiap hari, dengan jumlah pengunjung yang meningkat pada hari Jumat. “Banyak yang datang, apalagi hari Jumat, dari pagi sampai sore. Hari-hari lain juga tetap ada yang datang,” ujarnya.
Tradisi ini telah lama menjadi bagian dari praktik kesehatan masyarakat Sasak dengan memanfaatkan bahan alami seperti daun, rempah, dan ramuan tradisional. Hingga kini, masyarakat masih mempercayai metode ini sebagai alternatif pengobatan yang dekat dengan budaya mereka.
Namun, di balik keberlangsungannya, muncul kekhawatiran akan masa depan bebubus. Dalam wawancara tersebut, Saik Dijah mengungkapkan bahwa belum ada generasi penerus yang bersedia melanjutkan tradisi ini. “Tradisi ini sudah turun-temurun, tapi kalau saya meninggal, mungkin dikubur saja, karena tidak ada yang mau melanjutkan,” ungkapnya dengan nada prihatin.
Menanggapi kondisi tersebut, peran lembaga masyarakat menjadi sangat penting. M Zainul Hafizi, pembina Yayasan Yazri Harapan Nusantara, menyampaikan bahwa pihaknya memiliki komitmen dalam menjaga dan mengembangkan tradisi lokal sebagai bagian dari pemberdayaan masyarakat. Yayasan Yazri Harapan Nusantara merupakan lembaga non-profit yang bergerak di bidang pendidikan, pemberdayaan masyarakat, serta pelestarian dan pengembangan nilai-nilai budaya.
Ia menegaskan bahwa upaya pelestarian bebubus tidak hanya sebatas dokumentasi, tetapi juga mendorong keterlibatan generasi muda. “Kami ingin anak muda tidak hanya mengenal, tetapi juga mau belajar dan menjaga tradisi ini. Karena kalau tidak ada regenerasi, tradisi seperti bebubus bisa hilang,” ujarnya.
Lebih lanjut, ia menambahkan bahwa yayasan akan terus membuka ruang kolaborasi dengan berbagai pihak, termasuk praktisi tradisional seperti Saik Dijah, masyarakat lokal, serta pemangku kepentingan lainnya. Pendekatan ini dilakukan agar pelestarian budaya tidak berjalan sendiri, melainkan menjadi gerakan bersama yang berkelanjutan.
Masyarakat yang datang untuk berobat masih menunjukkan antusiasme yang tinggi, baik karena kepercayaan terhadap pengobatan alami, biaya yang relatif terjangkau, maupun kedekatan dengan nilai budaya lokal. Hal ini menjadi potensi besar dalam menjaga keberlangsungan tradisi.
Dengan adanya sinergi antara praktisi tradisional dan dukungan dari yayasan, tradisi bebubus diharapkan tidak hanya bertahan, tetapi juga dapat terus berkembang dan diwariskan kepada generasi berikutnya sebagai bagian dari identitas budaya yang bernilai.
